Jumat, 17 Februari 2017

Satukan Langkah Menuju Kepemimpinan IMM Yang Bersinergi

“Sinergi : Meciptakan Prasangka Yang Baik, Melahirkan Kepercayaan, Hadirnya Sikap Saling Menghormati, Meningkatkan Produktivitas, Tumbuhnya Kreatifitas, Membentuk Jiwa Yang Inovatif, Dalam Rangka Menemukan dan Melaksanakan Solusi Terbaik”
Realitas sosial peradaban manusia yang berkembang begitu pesat yang merasuki segala dimensi kehidupan yang pada akhirnya menjadi tantangan besar bagi eksistensi sebuah bangsa bahkan menjadi sebuah ancaman apabila kondisi tersebut tidak mampu dikelola dengan baik begitupula dengan keberadaan organisasi kemahasiwaan yang ada didalamnya, akan tetapi apabila organisasi kemahasiswaan memiliki visi yang jelas dan kemampuan pengelolaan yang baik akan realitas sosial yang sedang terjadi maka kondisi tersebut dapat menjadi peluang  yang dapat terus menggenjot jalannya roda organisasi menuju cita-cita ideal yang diinginkan.
Dengan terus berkembangnya segala dimensi kehidupan manusia dimana teknologi dan sains merupakan penopang utama lahirnya peradaban – peradaban yang menakjubkan, pemanfaatan teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi mutlak adanya bagi keberadaan sebuah bangsa untuk terus dapat bertahan ditengah arus globalisasi yang semakin menipiskan dimensi – dimensi teritorial kebangsaan, suku, agama dan membawa pada satu tatanan dunia yang seakan tak memiliki batas.
Ilmu pengetahuan juga terus berkembang dan melaju dengan pesat tak terkecuali ilmu – ilmu yang berada dalam rumpun ilmu sosial, sekalipun dekade terakhir menguat issue yang mengatakan ilmu – ilmu yang berada dalam rumpun ilmu sosial humaniora akan semakin dipinggirkan mengingat tuntutan zaman yang berada pada era post-modernis ini dunia membutuhkan manusia-manusia dengan segudang skill teknis dengan mengesampingkan keberadaan manusia sebagai makhul sosial yang pada akhirnya membawa peradaban manusia menuju dekadensi moral yang sangat mengerikan.
Terlepas dari persoalan tersebut perdiskusian terkait dengan teori – teori kepemimpinan yang merupakan bagian dari rumpun ilmu sosial terus berkembang dan melahirkan paradigma-paradigma baru untuk menjawab realitas zaman yang semakin kompleks ini, dari berbagai fenomena – fenomena yang terjadi dimana lahirnya pemimpin dunia, pemimpin bangsa bahkan kelahiran pemimpin untuk level komunitas terkecilpun terkadang lahir dari proses kamuflase media akan citra yang dihadirkannya terhadap sosok tokoh-tokoh pemimpin yang kemudian muncul lewat proses yang kemudian sering disebut sebagai pemimpin hasil pencitraan media, meskipun hadirnya pemimpin lewat proses pencitraan media tidak selamanya buruk tetapi lebih kepada peranan media memiliki pengaruh yang begitu besar dalam menggiring wacana publik bahkan dalam hal menentukan dan mengubah paradigma publik untuk memilih seorang pemimpin, hal inilah yang sering menjadi bahan perdiskusian terkait paradigma baru teori – teori kepemimpinan.
Selain hal tersebut diatas perdiskusian terkait lahirnya paradigma maupun metode baru dalam proses kepemimpinan adalah belakangan dimana sering muncul dalam berbagai tulisan dan seminar – seminar adalah proses menciptakan kepemimpinan yang bersinergi, meskipun sinergitas bukan kata baru dalam dunia organisasi dan korporasi – korporasi yang memang sering menekankan pada seluruh anggotanya lewat berbagai kegiatan motivasi – motivasi agar menciptakan sinergitas dalam menjalankamn team work yang ada.
Seiring berjalannya waktu gaya kepemimpinan klasik yang lebih cenderung otoriter dalam proses pembuatan kebijakan dan tidak begitu melibatakan dan mendengarkan aspirasi secara keseluruhan dari anggota organisasi, maka sinergitas mulai muncul dan dikaitkan secara langsung dengan gaya kepemimpinan. Sinergi yang berasal dari bahasa Yunani sebagai Synergos yang dalam beberapa tulisan dipahami sebagai bekerja bersama-sama, sinergi adalah suatu bentuk ataupun citra dari sebuah proses atau interaksi yang menghasilkan keseimbangan yang harmonis sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang optimum. (Dedy Rustiono)
Lebih jauh Synergi adalah bentuk kerjasama win-win yang dihasilkan melalui kolaborasi masing-masing pihak tanpa adanya perasaan kalah, jika 1 + 1 = 3 makam itulah yang disebut Synergi, sinergi adalah sling mengisi dan melengkapi perbedaan untuk mencapai hasil lebih besar daripada jumlah bagian per bagian (Stephen Covey).
Olehnya itulah konsep kepemimpinan yang menggunakan pendekatan sinergitas sangat efektif dalam mebangun suatu organisasi yang produktif karena menerima semua idea yang ada untuk kemudian melahirkan solusi terbaik.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yang berada dibawah naungan persyarikatan Muhammadiyah sesungguhnya jauh hari sebenarnya sudah menggunakan konsep kepemimpinan yang sinergis yang dimana lebih dikenal sebagai kepemipinan kolektif kolegial, konsep kepemimpinan kolektif kolegial merupakan karakter yang sudah menjadi ciri khas kepemimpinan dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah meskipun hal tersebut hanya berlaku dalam internal kepemimpinan saja, berbeda denga gaya kepemimpinan yang sinergis dimana melibatkan semua unsur baik internal maupun eksternal dalam mebangun hubungan kerjasama sebagai bentuk kerja-kerja nyata untuk mencapai tujuan organisasi yang kita impikan.
Sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan maka sangatlah penting kiranya menerapkan sinergitas yang sesungguhnya dalam proses kepemimpinan di IMM, sebagai organisasi gerakan ketika hal tersebut tidak diciptakan maka dapat dipastikan gerkan yang dibangun tidak akan maksimal.
Mewujudkan kepemimpinan yang bersinergi harus dibangun dan terbina dari kebiasaan, mewujudkan sinergitas kepemimpinan bukan berarti berkompromi ditengah melainkan mencari alternatif ketiga dan mencapai puncak kejayaan kepemimpinan dalam ikatan, sinergi bukan menghilangkan perbedaan kemudian menciptakan persamaan akan tetapi melahirkan kerja – kerja kreatif dan produktif melalui saling menghormati perbedaan yang ada, menciptakan kekuatan dan mengkompensasikan kekuatan demi terwujudnya solidaritas yang atraktif di kepemimpinan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
*Ketua Umum PC IMM Kota Makassar Periode 2016-2017

Tafsir Islam Berkemajuan Dalam Bingkai Kemahasiswaan


Mahasiswa merupakan generasi muda yang berada pada fase pertumbuhan yang unik dalam sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara, dikatakan unik karena mahasiswa adalah awal dari kehadiran pemuda sebagai sosok yang memiliki hubungan yang intensif dengan kalangan elit penguasa dan masyarakat sipil secara keseluruhan yang pada fase tersebutlah bagaimana mahasiswa mampu membentuk idealisme dalam dirinya yang akan menjadi penentu diwaktu yang akan datang, posisi mahasiswa yang berada dipertengahan dalam konteks strata sosial memungkinkan mahasiwa menjadi penyambung lidah rakyat dalam mengaspirasikan kepentingan rakyat kepada para penguasa. Mahasiswa adalah sumber kepemimpinan bangsa atau sebagai iron stock sebagai kekuatan moral-intelektual yang mampu mempengaruhi dan melakukan perubahan social, mahasiswa sebagai kekuatan korektif dan pencetus kesadaran masyarakat terhadap kelalaian pemerintah dalam merespon tuntutan berbangsa dan bernegara.
Olehnya itu dalam membangun dan menggerakkan apa yang menjadi karakter dan tipikal seorang mahasiswa maka dibutuhkan wadah sebagai ruang bergerak dan melakukan perjuangan sebagaimana dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer “didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan” maka organisasi merupakan hal mutlak yang harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan seorang mahasiswa, lewat proses berorganisasilah karakter idealis akan tertanan dalam diri seorang anak bangsa yang akan menjadi penerus estafet kepemimpin bangsa.
Dalam catatan sejarah pergerakan mahasiswa yang ada di Indonesia organisasi kemahasiswaan yang memilki corak keagamaan mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam proses dan penentuan perjalanan arah bangsa, dominasi organisasi yang bercorak islam adalah sesuatu yang tak terbantahkan mengingat bangsa
Indonesia mayoritas beragama Islam.
Perjalanan organisasi kemahasiswaan yang bercorak Islam tidaklah mudah tantangan yang dihadapi gerakan mahasiswa Islam ini sangatlah berat, di ranah global terjadi perkembangan dunia yang sangat dinamis, kompleks, dan sarat muatan kepentingan dari setiap bangsa dan negara dalam relasi globalisasi dan politik global yang sangat keras, kehidupan politik nasional juga sarat masalah, perkembangan politik, ekonomi, dan budaya yang semakin liberal dan menuju liberalisasi yang semakin massif sungguh akan memberi corak terhadap Indonesia ke depan apalagi gerakan mahasiwa Islam tidak mampu membendung persoalan tersebut dengan ide dan gagasan – gagasan yang kreatif dan produktif. Akan banyak masalah bermunculan akibat liberalisasi struktural dan kultural itu.
Disisi lain kondisi kebangsaan kita sangat mengerikan, korupsi, dominasi partai dan elite politik yang prgamatis, pengrusakkan dan eksploitasi sumberdaya alam yang membabi-buta, melebarnya kesenjangan sosial ekonomi yang melahirkan kemiskinan dan marjinalisasi sosial, konflik sosial, krisis keluarga, patologi sosial, tenggelamnya jiwa kenegarawanan, dan berbagai masalah ke depan akan semakin kompleks. Rekonstruksi kehidupan kebangsaan ke depan sangatlah memerlukan basis idealisme yang kuat pada jiwa, pikiran, dan cita-cita yang diharapkan hadir pada diri seorang mahasiswa sebagaimana amanat kemerdekaan yang diletakkan para pendiri bangsa.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai organisai kemasiswaan yang bercorak keagamaan dalam sejarah kelahirannya merupakan sebuah kemestian melihat situasi kebangsaan dan corak islam dengan kompleksitasnya, dalam Muqaddimah Anggaran Dasar dijelaskan IMM sebagai salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yang merupakan wadah berhimpun dan perjuangan untuk menggerakan dan membina potensi mahasiswa islam guna meningkatkan peran dan tanggung jawabnya sebagai kader perserikatan, kader umat dan kader bangsa sehingga tumbuh kader-kader yang memiliki kerangka berpikir ilmi amaliyah dan amal ilmiyah sesuai dengan kepribadian Muhammadiyah, dan hal tersebut dipertegas dengan tujuan IMM yakni mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
Sebagai organisasi otonom yang berada dibawah naungan persyarikatan Muhammadiyah, IMM tentu tidak terlepas dari apa yang menjadi corak gerakan Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai organisasi islam yang moderat sejak kelahirannya mengusung gerakan tajdid atau pembaruan serta pemurnian pemahaman dalam berislam. Memasuki abad kedua Muhammadiyah mengusung wacana besar dalam gerakannya yakni gerakan islam berkemajuan yang sejatinya KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri persyarikatan Muhammadiyah memiliki pemikiran yang berkemajuan. Olehnya itu IMM harus mampu menjawab dan merealisasikan apa yang menjadi cita-cita Muhammadiyah abad kedua, dimana IMM harus mengejewantahkan konsep Islam berkemajuan dalam bingkai kemahasiswaan yang menjadi basis gerakan IMM.
IMM sebagai gerakan mahasiswa Islam dalam menjalankan peran fungsinya sebagai organisasi dakwah Intelektual pola gerakan yang dikenal sebagai tri kompetensi dasar atau trilogi ikatan yang harus dijalankan secara padu oleh seluruh kader IMM yaitu pertama, gerakan spritual yang menjadikan nilai-nilai keimanan dan moralitas sebagai nilai luhur yang senantiasa menjadi ruh dan spirit gerakan. Kedua, gerakan intelektual dengan menjadikan garakan intelektual bagi mahasiswa dan menjadikan intelektualitas sebagai identitas gerakan. Ketiga, gerakan humanitas dengan senantiasa, responsif tanggap dan memiliki sensitivitas sosial yang tinggi sebagai bentuk diirinya melawan segala bentuk penindasan penindasan.
IMM sebagai organisasi kemahasiswaan tentu memiliki karakter yang progresif dalam gerakannya yang secara bahasa sejalan dengan cita-cita persyarikatan untuk mewujudkan Islam berkemajuan yang dimana secara umum dipahami bahwa islam berkemujuan adalah sebuahgerakan yang mendorong kehidupan yang membebaskan, memberdayakan, dan mencerahkan dalam seluruh aspek kehidupan umat manusia.
Pertama, membebaskan dalam hal ini kader IMM harus hadir sebagai mahasiwa yang mampu membebaskan dirinya dan mahasiswa yang lain terhadap segala bentuk penindasan intektual yang melemahkan pikirannya dan memarjinalkan dirinya secara personal, struktural maupun secara kultural yang harus dibingkai secara terorganisir. Selain itu IMM harus terlibat dan menjadi pelaku dalam proses transformasi sosial dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.
Kedua, memberdayakan yakni kader IMM harus lahir sebagai mahasiswa yang memilki kemampuan mengorganisir sumber daya yang dimiliki dalam rangka melakukan proses perubahan dengan mendorong keterlibatan seluruh komponen khususnya dikalangan mahasiswa secara kolektif untuk melahirkan kesamaan ide dan gagasan untuk mencapi kondisi yang terbaik.
Ketiga, mencerahkan adalah fase yang akan terjadi apabila fase membebaskan dan memberdayakan telah tercapai yang pada akhirnya mengantarkan IMM pada posisi yang memilki kontribusi dalam memajukan bangsa dari ketertinggalan menuju Indonseia yang semakin maju, adil, makmur, bermartabat dan berdaulat.
Hadirnya IMM dengan pengejewantahan ketiga poin tersebut dipadukan dengan apa yang menjadi trilogi gerakan IMM akan mengantarkan IMM sebagai organisasi kemahasiswan yang progresif dan mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks sehingga lahirlah gerakan Islam berkemajuan dalam bingkai gerakan kemahasiswaan.(*)

*Abdul Gafur, Ketua Umum PC IMM Kota Makassar Periode 2016-2017

Ke IMM an

A. Latar Belakang
Gerakan mahasiswa dimanapun berada senantiasa memiliki peran yang signifikan dan strategis dalam mewujudkan sebuah perubahan. Gerakan mahasiswa menurut Anthony Giddens memenuhi karakteristik dasar sebuah gerakan sosial, yakni dari segi kolektifitasnya, kesengajaan pengorganisasiaannya, kesinambungan tujuan dan kepentingan bersama yang dilakukan di luar institusi yang ada dan bertujuan jangka panjang. Kelahiran IMM merupakan sebuah keniscayaan sejarah, karena perubahan membutuhkan penggerak atau actor perubahan yang lahir dari rahim sejarah itu sendiri. Kelahiran IMM adalah sebuah keharusan sejarah, dimana kondisi umat Islam dan bangsa Indonesia yang mengalami pengrusakan dari dalam dan luar menuntut lahirnya gerakan mahasiswa yang independent, murni dan  bermoral. Anggun dalam moralitas dan unggul dalam intelektualitas bukan sekedar bahasa jargon organisasi, melainkan nilai mulia yang senantiasa harus terinternalisasi dalam diri kader IMM, sebagai identitas. Ilmu amaliah amal ilmiah, merupakan logika gerakan IMM dalam membumikan setiap gagasannya dan mempertanggung jawabkan setiap gerakannya.
IMM telah menegaskan diri melakukan keberpihakan kepada yang lemah (mustadhafin), tetapi tidak ditempatkan dalam konstruk perjuangan kelas. IMM juga tanpa berhenti terus menerus melakukan pergulatan dalam studi-aksi-refleksi, menyiapkan diri tidak sekedar sebagai agen perubahan, melainkan akan mendorong diri sebagai pelaku dalam arus perubahan peradaban (agent of historical change)
B. Sejarah Kelahiran IMM
Secara garis besar kelahiran IMM disebabkan oleh 2 (dua) faktor utama, yakni faktor internal dan eksternal.
Faktor Internal
Adalah faktor yang berasal dari dalam Persyarikatan Muhammadiyah selaku induk ortom-ortom yang ada. Faktor ini banyak dipengaruhi oleh motivasi idealisme untuk mengembangkan ideology Muhammadiyah atau paham Islam menurut Muhammadiyah sampai kepada cita-citanya. Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi kemasyarakat berbasis Al Qur’an dan Al Hadits bertujuan untuk menegakkan dan menunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhai Allah SWT (AD Bab II : 3)
Cita ideal ini mengharuskan Muhammadiyah untuk mampu memasuki seluruh lini kehidupan manusia yang heterogen, termasuk di dalamnya adalah kalangan mahasiswa. Walaupun Muhammadiyah sebagai anggota istimewa Masyumi, terikat ikrar Abadi umat Islam yang dicetuskan pad tanggal 25 Desember 1949 yang salah satu isinya menyatakan bahwa satu-satunya organisasi mahasiswa Islam adalah HMI. Namun Muhammadiyah secara institusional berpendapat bahwa kehadiran HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam terlalu terbuka dengan berbagai macam faham keagamaan yang dibawa oleh masing-masing anggotanya, hal ini tidak memungkinkan bagi HMI untuk membawa misi pencerahan dakwah amar ma’ruf nahi munkar Muhammadiyah.
Akhirnya pada  Muktamar Muhammadiyah ke – 25 pada tahun 1936 di Jakarta. Muhammadiyah bertekad untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah yang ditindaklanjuti dengan perintisan Fakultas Hukum dan Filsafat di Padang Panjang yang berdiri pada tanggal 18 November 1955 dan secara berturut-turut diikuti dengan berdirinya Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Jakarta dan di Surakarta, Akademi Tabligh Muhammadiyah di Yogyakarta serta Fakultas ILmu Sosial di Jakarta. Kemudian pada tahun 1962 diadakan Kongres Mahasiswa Muhammadiyah di Yogyakarta, kemudian pada tanggal 15 Desember 1963 didirikan Lembaga Dakwah Mahasiswa yang kemudian diusulkan berubah nama menjadi IMM. Selanjutnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) secara resmi berdiri pada tanggal 14 Maret 1964 di Jogjakarta, berdasarkan SK PP Muhammadiyah tanggal 14 Maret 1964/29 Syawal 1384 H.
Adapun pendiri IMM antara lain : Djazman Al Kindi, Soedibjo Markoes, M. Amien Rais, Yahya Muhaimin, dan Rosyad Saleh
Faktor Eksternal
Adalah faktor yang berawal dari luar Muhammadiyah atau kondisi umat Islam dan kondisi bangsa Indonesia pasca kemerdekaan yang mengalami banyak pergolakan.
Kondisi umat Islam pra dan pasca kemerdekaan cenderung tidak mengalami perkembangan yang signifikan. Umat Islam masih terjebak dalam ritus beragama yang berkembang di masa lalu yang banyak dipengaruhi oleh budaya nenek moyang yang mengarah kepada sinkritisme bahkan animisme yang bertolak belakang dengan ajaran Islam yang murni. Hal ini tidak hanya melanda masyarakat yang rata-rata memiliki tingkat pendidikan yang rendah tapi juga kalangan mahasiswa, yang seharusnya berfikir lebih maju dibanding masyarakat secara umum. Umat Islam pada masa itu juga terjerembab sangat jauh dalam kemiskinan dan kebodohan yang terstruktur akibat penjajahan di masa pra kemerdekaan. Kemiskinan dan kebodohan ini adalah faktor utama yang menyebabkan terjadinya kemerosotan paham agama yang terdistorsi oleh ketidakmampuannya melawan hegemoni budaya nenek moyang yang sinkritis tersebut.
Sedangkan kondisi kebangsaan pada masa itu banyak diwarnai gerakan komunis PKI yang secara terang-terangan memberangus seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa yang banyak dipelopori oleh ormas-ormas Islam. Hal ini semakin diperparah dengan terjadinya pergolakan ditingkat OKP (Organisasi Kemasyarakatan dan Pemuda). Organisasi mahasiswa dan kepemudaan menemui jalan buntu dalam mempertahankan independensi dan partispasi aktif dalam membangun bangsa pasca kemerdekaan. Bahkan gerakan mahasiswa sudah mulai terpolarisasi (terkotak-kotak) oleh kepentingan sesaat (pragmatisme) sehingga semakin lama semakin melemah dan berekses terhadap persatuan dan kesatuan dalam skala nasional.
C. Maksud dan Tujuan IMM
Maksud didirikannya IMM adalah sebagai berikut :
  1. Turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa
  2. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam
  3. Sebagai upaya untuk menopang, pelangsung, penyempurna cita-cita pembaruan dan amal usaha Muhammadiyah
  4. Membina, meningkatkan, dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa, umat dan persyarikatan
Tujuan didirikannya IMM adalah sebagai berikut :
Mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlaq mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah (AD Pasal 6)
D. Enam Penegasan IMM
Peresmian berdirinya IMM di Gedung Dinoto ditandai dengan penandatanganan Enam Penegasan IMM oleh KH Ahmad Badawi (Ketua Umum PP Muhammadiyah saat itu), yang berbunyi :
  1. IMM adalah gerakan mahasiswa Islam
  2. Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM
  3. Fungsi IMM adalah organisasi yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah Negara
  4. Ilmu adalah amaliah dan amalan adalah ilmiah
  5. Amal IMM adalah Lillahi Ta’ala dan senantiasa diabdikan untuk kepentingan rakyat
  6. IMM adalah pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah

E. Identitas IMM
    1. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah organisasi kader yang bergerak dibidang keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah
    2. Sesuai dengan gerakan Muhammadiyah, maka Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memantapkan gerakan dakwah ditengah-tengah masyarakat,  khususnya dikalangan mahasiswa
    3. Setiap anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, harus mampu memadukan kemampuan ilmiah (intelektual) dan aqidahnya (spiritual)
    4. Oleh karena itu, setiap anggota harus tertib dalam beribadah, tekun dalam studi dan mengamalkan ilmunya untuk menyatalaksanakan ketaqwaan dan pengabdiannya kepada Allah SWT.
  1. F. Falsafah Gerakan IMM
    1. Semua amal gerak harus diabdikan kepada Allah SWT
    2. Keikhlasan harus menjadi landasan gerak
    3. Ridha Allah harus senantiasa menjadi ghirahnya, karena tidak ada perjuangan yang berhasil tanpa ridha Allah
    4. Tenaga perbuatan (power of action) sangat menentukan karena nasib kita tergantung kepada usaha kita masing-masing (Ar Ra’du : 11)
  1. G. Postur Kader IMM
    1. Kompetensi dasar aqidah adalah kemampuan kader untuk memformulasikan kehidupan berjiwa tauhid menurut ajaran Islam. Indikatornya adalah :
      1. Aqidah yang terimplementasi dalam sikap hidup yang membebaskan diri dari penghambaan terhadap segala sesuatu selain Allah dan terhadap sesama (penindasan, ketundukan pada penguasa, dll)
      2. Tertib dalam Ibadah juga terefleksikan dalam bentuk kepekaan dan kepedulian sosial, yang dalam bahasa Al Qur’an mencegah dari perbuatan keji dan mungkar
      3. Menggembirakan dakwah, artinya memiliki kreatifitas dalam merumuskan metode dakwah, perjuangan atau aktivitasnya
      4. Akhlakul karimah, yang menjadi bagian identitas dirinya selaku pemimpin
  1. Kompetensi dasar intelektual adalah kemampuan untuk merngaktualisasikan diri melalui berfikir sendiri, integral, liberatif, inovatif, dengan mengembangkan pemahaman serta amaliah rasional sehingga akademisi terlibat secara kritis dengan nilai kehidupan yang Islami, tujuan cita-cita yang mengatasi praktis sesuai dengan basis ilmu pengetahuan yang diserap. Indikatornya adalah :
    1. Bersikap kritis terhadap diri dan lingkungan
    2. Tekun dalam studi dan pengembangan iptek secara profesional
    3. Mengembangkan karakter kepemimpinan
    4. Terbuka dan selektif terhadap pandangan baru secara Ijtihadiyah
    5. Aktif dan reaktif
    6. Memiliki tanggung jawab sosial dengan mengembangkan kesadaran, pengalaman ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab terhadap lingkungan alam dan sosial.
  1. Kompetensi dasar humanitas adalah kemampuan kader untuk mengimplementasikan nilai-nilai dan ciri-ciri Muhammadiyah secara lahiriah, konsisten dan konsekuen dalam suatu disposisi sikap, sehingga tampak memiliki identitas khusus. Indikatornya adalah :
Kader yang senantiasa setia terhadap keyakinan dan cita-citanya
  1. Rasa solidaritas sosial dengan membantu para anggota khususnya dan mahasiswa umumnya dalam menyelesaikan kepentingannya
  2. Sikap konstruktif dalam menghadapi problema dan perubahan-perubahan dalam bisang sosial pemahaman keagamaan dan kemahasiswaan
  3. Kedewasaan sikap yang tercermin dari kedalam dan kejauhan wawasan hukum, peraturan, undang-undang, dan falsafah negara RI
  4. Berpribadi Muhammadiyah
  1. H. Struktur dan Orientasi Organisasi
-    Pimpinan Komisariat berada pada tingkat Fakultas atau Akademi
Orientasi   :        Kemahasiswaan, perkaderan, keorganisasian dan kemasyarakatan
(penguatan intelektual/exercise intelectuall)
-    Pimpinan Cabang berada pada tingkat Kabupaten/Kota
Orientasi   :        Perkaderan, Kemahasiswaan, keorganisasian dan kemasyarakatan
(penguatan dan pembinaan kader)
-    Dewan Pimpinan Daerah (DPD) berada pada tingkat provinsi
Orientasi   :        Keorganisasian, kemasyarakatan, perkaderan, dan kemahasiswaan
(penguatan organisasi internal dan eksternal)
-    Dewan Pimpinan Pusat (DPP) berada pada tingkat Pusat/Nasional
Orientasi   :        Kemasyarakatan, keorganisasian, perkaderan, dan kemahasiswaan
(penguatan humanitas/pengabdian kepada umat dan bangsa)
  1. I. Jenjang Perkaderan IMM
    1. Perkaderan Utama
  • Darul Arqam Dasar (DAD)
diarahkan pada penanaman nilai-nilai aqidah dan membangun moral agama dan dasar-dasar kepemimpinan
bertujuan untuk membentuk kader pimpinan komisriat
  • Darul Arqam Madya (DAM)
diarahkan pada penguatan intelektual ; elaborasi dan kritik pemikiran dan teori serta pembentukan karakter pemimpin tingkat menengah
bertujuan untuk membentuk kader pimpinan ditingkat Cabang dan DPD
  • Darul Arqam Paripurna (DAP)
Diarahkan pada penguatan humanitas ; menciptakan antitesa pemikiran dan teori sekaligus melahirkan metodologi sosial untuk persoalan-soalan keummatan dan kebangsaan.
bertujuan untuk membentu kkader pimpinan di tingkat Pusat (DPP)
  1. Perkaderan Pembina
  • Latihan Instruktur Dasar (LID)
bertujuan untuk melahirkan kader Pembina ditingkat dasar atau DAD
  • Latihan Instruktur Madya (LIM)
bertujuan untuk melahirkan kader Pembina ditingkat menengah atau DAM
  • Latihan Instruktur Nasional (LIN)
bertujuan untuk melahirkan kader Pembina ditingkat nasional atau DAP
  1. Perkaderan Pendukung

  • Pendidikan Khusus Immawati (Diksuswati) I, II, dan III (Nasional)
  • Latihan Advokasi
  • Latihan Jurnalistik
  • Sekolah Pelopor
  • Pelatihan-pelatihan lainnya

Senin, 05 Desember 2016

Selamat dan Sukses LIM Nasional 2016


Silaturrahim Instruktur


Kamis, 15 September 2016
Bidang Kader PC IMM Kota Makassar