Mahasiswa merupakan generasi muda yang berada pada fase pertumbuhan yang unik dalam sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara, dikatakan unik karena mahasiswa adalah awal dari kehadiran pemuda sebagai sosok yang memiliki hubungan yang intensif dengan kalangan elit penguasa dan masyarakat sipil secara keseluruhan yang pada fase tersebutlah bagaimana mahasiswa mampu membentuk idealisme dalam dirinya yang akan menjadi penentu diwaktu yang akan datang, posisi mahasiswa yang berada dipertengahan dalam konteks strata sosial memungkinkan mahasiwa menjadi penyambung lidah rakyat dalam mengaspirasikan kepentingan rakyat kepada para penguasa. Mahasiswa adalah sumber kepemimpinan bangsa atau sebagai iron stock sebagai kekuatan moral-intelektual yang mampu mempengaruhi dan melakukan perubahan social, mahasiswa sebagai kekuatan korektif dan pencetus kesadaran masyarakat terhadap kelalaian pemerintah dalam merespon tuntutan berbangsa dan bernegara.
Olehnya itu dalam membangun dan menggerakkan apa yang menjadi karakter dan tipikal seorang mahasiswa maka dibutuhkan wadah sebagai ruang bergerak dan melakukan perjuangan sebagaimana dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer “didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan” maka organisasi merupakan hal mutlak yang harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan seorang mahasiswa, lewat proses berorganisasilah karakter idealis akan tertanan dalam diri seorang anak bangsa yang akan menjadi penerus estafet kepemimpin bangsa.
Dalam catatan sejarah pergerakan mahasiswa yang ada di Indonesia organisasi kemahasiswaan yang memilki corak keagamaan mempunyai kontribusi yang sangat besar dalam proses dan penentuan perjalanan arah bangsa, dominasi organisasi yang bercorak islam adalah sesuatu yang tak terbantahkan mengingat bangsa
Indonesia mayoritas beragama Islam.
Indonesia mayoritas beragama Islam.
Perjalanan organisasi kemahasiswaan yang bercorak Islam tidaklah mudah tantangan yang dihadapi gerakan mahasiswa Islam ini sangatlah berat, di ranah global terjadi perkembangan dunia yang sangat dinamis, kompleks, dan sarat muatan kepentingan dari setiap bangsa dan negara dalam relasi globalisasi dan politik global yang sangat keras, kehidupan politik nasional juga sarat masalah, perkembangan politik, ekonomi, dan budaya yang semakin liberal dan menuju liberalisasi yang semakin massif sungguh akan memberi corak terhadap Indonesia ke depan apalagi gerakan mahasiwa Islam tidak mampu membendung persoalan tersebut dengan ide dan gagasan – gagasan yang kreatif dan produktif. Akan banyak masalah bermunculan akibat liberalisasi struktural dan kultural itu.
Disisi lain kondisi kebangsaan kita sangat mengerikan, korupsi, dominasi partai dan elite politik yang prgamatis, pengrusakkan dan eksploitasi sumberdaya alam yang membabi-buta, melebarnya kesenjangan sosial ekonomi yang melahirkan kemiskinan dan marjinalisasi sosial, konflik sosial, krisis keluarga, patologi sosial, tenggelamnya jiwa kenegarawanan, dan berbagai masalah ke depan akan semakin kompleks. Rekonstruksi kehidupan kebangsaan ke depan sangatlah memerlukan basis idealisme yang kuat pada jiwa, pikiran, dan cita-cita yang diharapkan hadir pada diri seorang mahasiswa sebagaimana amanat kemerdekaan yang diletakkan para pendiri bangsa.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai organisai kemasiswaan yang bercorak keagamaan dalam sejarah kelahirannya merupakan sebuah kemestian melihat situasi kebangsaan dan corak islam dengan kompleksitasnya, dalam Muqaddimah Anggaran Dasar dijelaskan IMM sebagai salah satu organisasi otonom Muhammadiyah yang merupakan wadah berhimpun dan perjuangan untuk menggerakan dan membina potensi mahasiswa islam guna meningkatkan peran dan tanggung jawabnya sebagai kader perserikatan, kader umat dan kader bangsa sehingga tumbuh kader-kader yang memiliki kerangka berpikir ilmi amaliyah dan amal ilmiyah sesuai dengan kepribadian Muhammadiyah, dan hal tersebut dipertegas dengan tujuan IMM yakni mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.
Sebagai organisasi otonom yang berada dibawah naungan persyarikatan Muhammadiyah, IMM tentu tidak terlepas dari apa yang menjadi corak gerakan Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai organisasi islam yang moderat sejak kelahirannya mengusung gerakan tajdid atau pembaruan serta pemurnian pemahaman dalam berislam. Memasuki abad kedua Muhammadiyah mengusung wacana besar dalam gerakannya yakni gerakan islam berkemajuan yang sejatinya KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri persyarikatan Muhammadiyah memiliki pemikiran yang berkemajuan. Olehnya itu IMM harus mampu menjawab dan merealisasikan apa yang menjadi cita-cita Muhammadiyah abad kedua, dimana IMM harus mengejewantahkan konsep Islam berkemajuan dalam bingkai kemahasiswaan yang menjadi basis gerakan IMM.
IMM sebagai gerakan mahasiswa Islam dalam menjalankan peran fungsinya sebagai organisasi dakwah Intelektual pola gerakan yang dikenal sebagai tri kompetensi dasar atau trilogi ikatan yang harus dijalankan secara padu oleh seluruh kader IMM yaitu pertama, gerakan spritual yang menjadikan nilai-nilai keimanan dan moralitas sebagai nilai luhur yang senantiasa menjadi ruh dan spirit gerakan. Kedua, gerakan intelektual dengan menjadikan garakan intelektual bagi mahasiswa dan menjadikan intelektualitas sebagai identitas gerakan. Ketiga, gerakan humanitas dengan senantiasa, responsif tanggap dan memiliki sensitivitas sosial yang tinggi sebagai bentuk diirinya melawan segala bentuk penindasan penindasan.
IMM sebagai organisasi kemahasiswaan tentu memiliki karakter yang progresif dalam gerakannya yang secara bahasa sejalan dengan cita-cita persyarikatan untuk mewujudkan Islam berkemajuan yang dimana secara umum dipahami bahwa islam berkemujuan adalah sebuahgerakan yang mendorong kehidupan yang membebaskan, memberdayakan, dan mencerahkan dalam seluruh aspek kehidupan umat manusia.
Pertama, membebaskan dalam hal ini kader IMM harus hadir sebagai mahasiwa yang mampu membebaskan dirinya dan mahasiswa yang lain terhadap segala bentuk penindasan intektual yang melemahkan pikirannya dan memarjinalkan dirinya secara personal, struktural maupun secara kultural yang harus dibingkai secara terorganisir. Selain itu IMM harus terlibat dan menjadi pelaku dalam proses transformasi sosial dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.
Kedua, memberdayakan yakni kader IMM harus lahir sebagai mahasiswa yang memilki kemampuan mengorganisir sumber daya yang dimiliki dalam rangka melakukan proses perubahan dengan mendorong keterlibatan seluruh komponen khususnya dikalangan mahasiswa secara kolektif untuk melahirkan kesamaan ide dan gagasan untuk mencapi kondisi yang terbaik.
Ketiga, mencerahkan adalah fase yang akan terjadi apabila fase membebaskan dan memberdayakan telah tercapai yang pada akhirnya mengantarkan IMM pada posisi yang memilki kontribusi dalam memajukan bangsa dari ketertinggalan menuju Indonseia yang semakin maju, adil, makmur, bermartabat dan berdaulat.
Hadirnya IMM dengan pengejewantahan ketiga poin tersebut dipadukan dengan apa yang menjadi trilogi gerakan IMM akan mengantarkan IMM sebagai organisasi kemahasiswan yang progresif dan mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks sehingga lahirlah gerakan Islam berkemajuan dalam bingkai gerakan kemahasiswaan.(*)
*Abdul Gafur, Ketua Umum PC IMM Kota Makassar Periode 2016-2017
Emoticon Emoticon